Thursday, August 7, 2014

5 Cara Menjaga Qalbu


Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt,
Qalbu memiliki kedudukan yang sangat penting. Baik dan buruknya seseorang sangat tergantung pada bagaimana keadaan qalbunya, bila qalbunya baik, maka baiklah orang itu dan bila qalbunya buruk, buruklah orang itu. Rasulullah saw bersabda:
“Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia. Ingatlah, segumpal daging itu adalah qalbu”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh kerana itu qalbu harus kita perlakukan dengan baik dalam kehidupan ini. Paling tidak ada lima hal yang harus kita perlakukan terhadap qalbu kita masing-masing.

1. Dibuka

Qalbu harus dibuka dan jangan sampai kita tutup. Yang menutup qalbu biasanya orang-orang kafir sehingga peringatan dan petunjuk tidak dapat masuk ke dalam hatinya, Allah swt berfirman:“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati qalbu dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”
(QS Al-Baqarah [2]:6-7)

Kerana itu ketika Umar bin Khattab menutup qalbunya dari petunjuk dia menjadi kafir bahkan sangat membenci Rasulullah saw hingga bermaksud membunuhnya, namun ketika qalbunya sudah dibuka dengan mudah petunjuk dapat masuk ke dalam qalbunya yang membuatnya tidak hanya beriman tapi amat mencintai Rasulullah saw.

Hal yang amat berbahaya bila qalbu tertutup selain petunjuk dan nasihat tidak dapat masuk, keburukan yang ada di dalam qalbu juga tidak dapat keluar sehingga meskipun kita tahu bahawa itu buruk amat sulit bagi kita untuk mengeluarkan atau membuangnya.

Ibarat ruangan, bila kita buka pintu dan jendelanya, maka udara kotor dapat keluar dan udara bersih dapat masuk sehingga akan kita rasakan kesegaran jiwa. Berbagai bencana yang kita nilai dahsyat dalam kehidupan kita di dunia ini boleh kita fahami sebagai bentuk upaya membentuk qalbu manusia agar mahu membukanya dan mengakui kebesaran Allah swt, namun ternyata qalbu yang tertutup rapat tetap saja tidak terbuka, mereka hanya mengatakan hal itu sebagai fenomena alam.

2. Dibersihkan.

Seperti halnya badan dan benda-benda, qalbu boleh mengalami kekotoran, namun kotornya qalbu bukanlah dengan debu, qalbu menjadi kotor bila padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang bemilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci.

Oleh karena itu, bila dosa kita sukai apatah lagi kita melakukannya, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga ia menjadi bersih kembali, Rasulullah saw bersabda:  “Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa”
(HR. Thabrani).

Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, kerana dosa adalah kotoran

“Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan qalbu yang bersih”
(QS Asy Syu’araa [26]:87-89).


3. Dilembutkan

Kelembutan qalbu merupakan sesuatu yang amat penting untuk dimiliki, hal ini kerana dengan qalbu yang lembut, hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia mudah menerima nilai-nilai kebenaran.

Kelembutan qalbu akan membuat kita memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya kelembutan qalbu menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun dia orang yang tidak baik, kerana kita pun ingin memperbaiki orang yang belum baik.

Untuk melembutkan qalbu, seorang muslim dapat melakukannya dengan banyak cara, diantaranya menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan:

“Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah saw seraya melaporkan kekerasan qalbunya, maka beliau menasihatinya: ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan kepada orang miskin”
(HR. Ahmad).


Kerana itu, amat sayanglah bila ada orang yang qalbunya keras bagaikan batu sehingga sulit untuk diberi nasihat dan peringatan sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil seperti yang disebutkan Allah swt dalam firman-Nya:
“Kemudian setelah itu qalbumu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah [2]:74).

4. Disihatkan

Jasmani (fizikal) yang sihat membuat kita memiliki ghairah dan semangat dalam menjalani kehidupan dan makanan yang lazat dapat kita nikmati. Namun apabila jasmani sakit tidak ada ghairah hidup dan makanan yang enak tidak berselera bagi kita untuk memakannya dan bila kita makanpun tidak kita rasakan kelazatannya.

Begitu pula halnya dengan qalbu, bila qalbu sakit kita tidak suka pada kebaikan dan kebenaran. Islam merupakan agama yang nikmat, namun bagi orang yang qalbunya sakit tidak dirasakan kenikmatan menjalankan ajaran Islam kecuali sekadar menggugurkan kewajiban.

Qalbu yang sakit biasanya dimiliki oleh orang munafik, mereka nyatakan beriman tapi sekadar dilisan, mereka laksanakan kebaikan termasuk solat tetapi maksudnya adalah mendapatkan pujian orang, kerana itu tidak mereka rasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik.

Allah swt berfirman:
"Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yangberiman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orangyang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sedar. Dalam qalbu mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta."
(QS Al Baqarah [2]:8-10)


Kerana itu, orang munafik akan mengalami penyesalan yang amat dalam disebabkan keburukan yang mereka sembunyikan di dalam qalbunya, Allah swt berfirman:
"Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam qalbunya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahsiakan dalam diri mereka.”
(QS Al Maidah [5]:52)


5. Ditajamkan

Qalbu juga harus kita asah hingga menjadi seperti pisau yang tajam. Pisau yang tajam akan mudah memotong dan membelah sesuatu. Bila qalbu kita tajam akan mudah pula membezakan mana haq dan mana yang bathil, bahkan perintahpun tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat perintah, dengan bahasa isyarat saja sudah cukup difahami kalau hal itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan.

Nabi Ibrahim dan Ismail merupakan di antara contoh orang yang memiliki ketajaman qalbu sehingga perintah Allah swt untuk menyembelih Ismail cukup disampaikan melalui mimpi dan Ismail menangkap hal itu sebagai perintah ketika Nabi Ibrahim menceritakannya, padahal Nabi Ibrahim tidak menyatakan bahawa hal itu merupakan perintah dari Allah swt.

Untuk mendidik kita menjadi orang yang memiliki ketajaman qalbu, puasa merupakan salah satu caranya, kerananya pada waktu puasa, teguran orang lain kepada kita meskipun dengan bahasa isyarat kita sudah menyadari akan kesalahan yang kita lakukan.




Wallahu a'alam